TUGAS
ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS, BAYI, BALITA DAN APRAS
SEBORRHEA
OLEH
:
KELOMPOK
1
ANGELA M. A.
FERNANDES PO. 530324014
355
ARISTAWATI N.
GAH PO.
530324014 356
IRNAWATI MARABEN PO. 530324014 366
MARGARETA N.
A.DALIS PO. 530324014
374
MARIA Y. TIMU PO.
530324014 385
MARIA YASINTHA
BHOKI PO. 530324014 384
TRI SANDHYA
FITRIA ASYARI PO.
530324014 395
YESI N. TARIGAN PO.
530324014 398
POLTEKKES
KEMENKES KUPANG
JURUSAN
KEBIDANAN ANGKATAN XVI
TAHUN
AKADEMIK 2014/2015
Puji syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini membahas tentang
“SEBORRHEA”.
Penulis mengucapkan
terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi
dan Balita yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan pembuatan makalah
selanjutnya.
Semoga makalah ini
dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Akhir kata, kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan
kelancaran dan kemudahan bagi kita semua.
Kupang,
05 Oktober 2015
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
Kata “dermatitis” berarti adanya inflamasi
pada kulit. Ekzema merupakan bentuk khusus dari dermatitis. Beberapa ahli
menggunakan kata ekzema untuk menjelaskan inflamasi yang dicetuskan dari dalam
pada kulit. Prevalensi dari semua bentuk ekzema adalah 4,66%, termasuk
dermatitis atopik 0,69%, eczema numular 0,17%, dan dermatitis seboroik 2,32%
yang menyerang 2% hingga 5% dari penduduk.
Seborrhea biasa disebut dengan Dermatitis
seboroik (DS) atau Seborrheic eczema merupakan penyakit yang umum, kronik, dan
merupakan inflamasi superfisial dari kulit, ditandai oleh pruritus, berminyak,
bercak merah dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menutup daerah inflamasi
pada kulit kepala, muka, dan telinga. Daerah lain yang jarang terkena, seperti
daerah presternal dada. Beberapa tahun ini telah didapatkan data bahwa
sekurang–kurangnya 50% pasien HIV terkena dematitis seboroik. Ketombe
berhubungan juga dermatitis seboroik, tetapi tidak separah dermatitis seboroik.
Ada juga yang menganggap dermatitis seboroik sama dengan ketombe.
DS adalah dermatosis papuloskuamosa kronik
yang biasanya mudah ditemukan pada tempat-tempat seboroik. Penyakit ini dapat
menyerang anak-anak paling sering pada usia di bawah 6 bulan maupun dewasa. DS
dikaitkan dengan peningkatan produksi sebum pada kulit kepala dan folikel sebasea
terutama pada daerah wajah dan badan. Jamur Pityrosporum ovale kemungkinan
merupakan faktor penyebab.
Banyak percobaan telah dilakukan untuk
menghubungkan penyakit ini dengan mikroorganisme tersebut yang juga merupakan
flora normal kulit manusia. Pertumbuhan P. Ovale yang berlebihan dapat
mengakibatkan reaksi inflamasi, baik akibat produk metaboliknya yang masuk ke
dalam epidermis maupun karena jamur itu sendiri melalui aktivasi sel limfosit T
dan sel Langerhans. Akan tetapi, faktor genetik dan lingkungan diperkirakan
juga dapat mempengaruhi onset dan derajat penyakit.
1.
Apa yang dimaksud dengan seborrhea atau
dermatitis seboroik?
2.
Jelaskan tentang epidemiologi seborrhea?
3.
Jelaskan tentang etiopatogenesis
seborrhea?
4.
Jelaskan tentang patogenesis seborrhea?
5.
Pemeriksaan penunjang apa sajakah yang
dapat dilakukan untuk mengetahui seborrhea?
6.
Jelaskan tentang penegakkan diagnosis
dari seborrhea?
7.
Terapi apa saja yang dilakukan untuk
seborrhea?
8.
Bagaimana kiat mengatasi seborrhea?
9.
Bagaimana cara mencegah terjadinya
seborrhea?
10. Jelaskan
tentang pragnosis dari seborrhea?
a.
Tujuan Umum
Untuk memunihi tugas
mata kuliah asuhan kebidanan neonatus, bayi, balita dan pra sekolah yang
diberikan.
b.
Tujuan Khusus
1.
Untuk mengetahui definisi dari seborrhea
atau dermatitis seboroik.
2.
Untuk mengetahui tentang epidemiologi
seborrhea.
3.
Untuk mengetahui tentang etiopatogenesis
dari seborrhea.
4.
Untuk mengetahui patogenesis seborrhea.
5.
Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan untuk mengetahui seborrhea.
6.
Untuk mengetahui tentang penegakkan
diagnosis dari seborrhea.
7.
Untuk mengetahui terapi yang dilakukan
untuk seborrhea.
8.
Untuk mengetahui kiat mengatasi
seborrhea.
9. Untuk
mengetahui cara mencegah terjadinya seborrhea.
10.
Untuk mengetahui tentang pragnosis dari
seborrhea.
BAB II
PEMBAHASAN
Seborrhea
disebut pula dengan Dermatitis seboroik yaitu kelainan kulit berupa peradangan
superfisial dengan papuloskuamosa yang kronik dengan tempat predileksi di
daerah-daerah seboroik yakni daerah yang kaya akan kelenjar sebasea, seperti
pada kulit kepala, alis, kelopak mata, naso labial, bibir, telinga, dada,
axilla, umbilikus, selangkangan dan glutea. Pada dermatitis seboroik didapatkan
kelainan kulit yang berupa eritem, edema, serta skuama yang kering atau
berminyak dan berwarna kuning kecoklatan dalam berbagai ukuran disertai adanya
krusta.
Istilah
dermatitis seboroik (DS) dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari
oleh factor konstitusi dan bertempat predileksi di tempat-tempat seboroik.
Dermatitis seboroik (DS) adalah penyakit kulit dengan peradangan superfisialis
kronis, dengan predileksi pada area seboroik, yang remisi dan eksaserbasi.
Area
seboroik yaitu bagian badan yang banyak kelenjar sebasea (kalenjar lemak)
yaitu: kepala (“Scalp”, telinga, saluran telinga, belakang telinga, leher),
muka (alis mata, kelopak mata, glabella, lipatan nasolabial, bibir, kumis,
pipi, hidung, janggut/ dagu), badan atas ( daerah presternum, daerah
interskapula, areolae mammae) dan pelipatan-pelipatan (ketiak, pelipatan bawah
mammae, umbilicus, pelipatan paha, daerah anogenital dan pelipatan pantat).
Dermatitis
seboroik adalah peradangan kulit pada daerah yang banyak mengandung kelenjar
sebasea. Dermatitis seboroik merupakan kelainan kulit inflamasi di mana telah
terbukti adanya peran kolonisasi jamur Malassezia pada kulit yang terkena.
Dermatitis
seboroik merupakan kelainan kulit yang berlangsung kronik dan kambuhan.
Dermatitis seboroik ditandai dengan kemerahan, gatal, dan kulit bersisik,
paling sering mengenai kulit kepala (ketombe), tetapi juga dapat mengenai kulit
pada bagian tubuh lainnya seperti wajah, dada, lipatan lutut, lengan dan lipat
paha.
Dermatitis
seborrheic umumnya hanya terjadi pada bayi karena hal ini terkait dengan hormon
androgen milik ibunya yang masih tersisa di dalam tubuhnya. "Itulah
kenapa, lewat dari masa bayi, masalah ini akan menghilang seiring dengan
berkurangnya kadar hormon androgen. Namun, tidak semua bayi akan mengalami
dermatitis seborrheic. Jadi hanya bayi tertentu saja, terutama yang mengalami
atopik, yakni kecenderungan untuk bereaksi menyimpang terhadap bahan-bahan yang
bersifat umum. Bila reaksi menyimpang itu terjadi di kulit kepala, maka akan
timbul dermatitis seborrheic bahkan eksim. Bila dermatitis seborrheic ini tidak
ditangani secara tepat, mungkin saja akan berlanjut menjadi infeksi. Biasanya
disertai proses inflamasi atau peradangan di dalam kulitnya. Ditandai dengan
sisik yang berada di atas kulit yang kemerahan.
Dermatitis
seboroik bisa ditemukan pada seluruh ras, dan lebih banyak terjadi pada pria
dibandingkan wanita. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya aktifitas
kelenjar sebasea yang diatur oleh hormon androgen.
Dermatitis
seboroik menyerang 2% - 5% populasi. Dermatitis seboroik dapat menyerang bayi
pada tiga bulan pertama kehidupan dan pada dewasa pada umur 30 hingga 60 tahun.
Insiden memuncak pada umur 18–40 tahun. DS lebih sering terjadi pada pria
daripada wanita. Berdasarkan pada suatu survey pada 1.116 anak–anak, dari
perbandingan usia dan jenis kelamin, didapatkan prevalensi dermatitis seboroik
menyerang 10% anak laki–laki dan 9,5% pada anak perempuan. Prevalensi semakin
berkurang pada setahun berikutnya dan sedikit menurun apabila umur lebih dari 4
tahun. Kebanyakan pasien (72%) terserang minimal atau dermatitis seboroik
ringan.
Pada
penderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), dapat terlihat pada hampir
35% pasien Terdapat peningkatan insiden pada penyakit Parkinson, paralisis
fasial, pityriasis versicolor, cedera spinal, depresi dan yang menerima terapi
psoralen ditambah ultraviolet A (PUVA). Juga beberapa obat–obatan neuroleptik
mungkin merupakan faktor, kejadian ini sering terjadi tetapi masih belum
dibuktikan. Kondisi kronik lebih sering terjadi dan sering lebih parah pada
musim dingin yang lembab dibandingkan pada musim panas.
Etiologi
dari penyakit ini belum terpecahkan. Faktor predisposisinya adalah kelainan
konstitusi berupa status seboroik (seborrhoic state) yang rupanya diturunkan,
bagaimana caranya belum dipastikan. Ini merupakan dermatitis yang menyerang
daerah–daerah yang mengandung banyak glandula sebasea, bagaimanapun bukti
terbaru menyebutkan bahwa hipersekresi dari sebum tidak nampak pada pasien yang
terkena dermatitis seboroik apabila dibandingkan dengan kelompok sehat.
Pengaruh hormonal seharusnya dipertimbangkan mengingat penyakit ini jarang
terlihat sebelum puberitas. Ada bukti yang menyebutkan bahwa terjadi status
hiperproliferasi, tetapi penyebabnya belum diketahui.
Dermatitis
seboroik berhubungan erat dengan keaktivan glandula sebasea. Glandula tersebut
aktif pada bayi yang baru lahir, kemudian menjadi tidak aktif selama 8-12 tahun
akibat stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti. Dermatitis seboroik pada
bayi terjadi pada umur bulan-bulan pertama, kemudian jarang pada usia sebelum
akil baligh dan insidennya mencapai puncaknya pada umur 18-40 tahun,
kadang-kadang pada umur tua. Dermatitis seboroik lebih sering terjadi pada pria
daripada wanita.
Meskipun
kematangan kelenjar sebasea rupanya merupakan faktor timbulnya dermatitis
seboroik, tetapi tidak ada hubungan langsung secara kuantitatif antara
keaktifan kelenjar tersebut dengan suseptibilitas untuk memperoleh dermatitis
seboroik. Dermatitis seboroik dapat diakibatkan oleh proliferasi epidermis yang
meningkat seperti pada psoriasis. Pada orang yang telah mempunyai faktor
predisposisi, timbulnya dermatitis seboroik dapat disebabkan oleh faktor
kelelahan, stres emosional, infeksi, atau defisiensi imun.
Penelitian–penelitian
melaporkan adanya suatu jamur lipofilik, pleomorfik, Malasssezia ovalis
(Pityrosporum ovale), pada beberapa pasien dengan lesi pada kulit kepala. P.
ovale dapat didapatkan pada kulit kepala yang normal. Ragi dari genus ini
menonjol dan dapat ditemukan pada daerah seboroik pada tubuh yang kaya akan
lipid sebasea, misalnya kepala dan punggung. Pertumbuhan P. ovale yang
berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi, baik akibat produk
metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri
melalui aktivasi sel limfosit T dan sel Langerhans. Hubungan yang erat terlihat
karena kemampuan untuk mengisolasi Malassezia pada pasien dengan DS dan
terapinya yang berefek bagus dengan pemberian anti jamur.
Bagaimanapun,
beberapa faktor (misalnya tingkat hormon, infeksi jamur, defisit nutrisi, dan
faktor neurogenik) berhubungan dengan keadaan ini. Adanya masalah hormonal
mungkin dapat menjelaskan mengapa keadaan ini muncul pada bayi, hilang secara
spontan, dan muncul kembali setelah pubertas. Pada bayi dijumpai hormon
transplasenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan
membaik bila kadar hormon ini menurun. Juga didapati bahwa perbandingan
komposisi lipid di kulit berubah. Jumlah kolesterol, trigliserida, parafin
meningkat dan kadar sequelen, asam lemak bebas dan wax ester menurun. Keadaan
ini diperparah dengan peningkatan keringat. Stres emosional memberikan pengaruh
yang jelek pada masa pengobatan. Obat–obat neuroleptik seperti haloperidol
dapat mencetuskan dermatitis seboroik serta faktor iklim. Lesi seperti DS dapat
nampak pada pasien defesiensi nutrisi, contohnya defesiensi besi, defesiensi
niasin, dan pada penyakit Parkinson. DS juga terjadi pada defesiensi
pyridoxine.
Berikut ini beberapa hal yang
berpotensial menyebabkan dermatitis seboroik yaitu:
1. Aktivitas kelenjar sebum yang berlebihan
2. Infeksi Pityrosporum ovale
3. Infeksi oleh Candida atau Staphylococcus
4. Hipersensitif terhadap bakeri ataupun
antigen epidermal
5. Kelainan neurotransmiter (mis : pada
penyakit parkinson)
6. Respon emosional terhadap stres atau
kelelahan
7. Proliferasi epidermal yang menyimpang
8. Diet yang abnormal
9. Obat-obatan (arsen, emas, metildopa,
simetidin, dan dan neuroleptik)
10. Faktor lingkungan (temperatur dan kelembaban)
11. Imunodefisiensi
Walaupun
banyak teori yang disebutkan, tetapi penyebab pasti dari dermatitis seboroik
belum diketahui secara pasti.Dermatitis seboroik dihubungkan dengan adanya
kulit yang tampak berminyak (seboroik oleosa), walaupun peningkatan produksi
sebum tidak selalu didapatkan pada beberapa pasien. Pada anak-anak, produksi
sebum dan dermatitis seboroik saling berhubungan. Pada pemeriksaan histologik,
kelenjar sebasea berukuran besar. Selain itu didapatkan juga perubahan
komposisi lipid pada permukaan kulit yang menunjukkan adanya peninggian kadar
kolesterol, trigliserida dan parafin, yang disertai penurunan kadar squalene,
asam lemak bebas dan wax ester.
Dermatitis
seboroik yang disebabkan oleh Pityrosporum ovale berkaitan dengan reaksi imun
tubuh terhadap sel jamur di permukaan kulit maupun produk-produk metabolitnya
di dalam epidermis. Reaksi peradangan yang timbul melalui perantaraan sel
langerhans dan aktivasi limfosit T. Bila Pityrosporum ovale telah berkontak
dengan serum, maka akan dapat mengaktifkan sistem komplemen melalui jalur
aktivasi langsung maupun alternatif. Pada anak, selain Pityrosporum ovale,
sering pula ditemukan Candida albicanspada lesi-lesi kulit.
Peningkatan
proliferasi epidermal pada dermatitis seboroik, menjelaskan mengapa penyakit
ini cukup responsif pada terapi dengan sitostatik. Selain itu, dermatitis
seboroik sering berkaitan dengan kelainan-kelainan neurologik seperti penyakit
parkinson pasca ensefalitis, epilepsi, trauma supraorbital, paralisis nervus
fasialis, polimielits, siringomielia, dan kuadriplegia. Kelainan pada sistem
neurologik menyebabkan abnormalitas pada neurotransmitter dan bermanifestasi
sebagai gangguan fungsi kelenjar sebum.Hal ini berdasarkan fakta, bahwa
beberapa obat yang dapat menginduksi parkinson ternyata juga dapat menginduksi
dermatitis seboroik, sementara pemberian L-dopa selain memperbaiki kondisi
parkinson, juga lesi kulit dengan dengan dermatitis seboroik.
Pemeriksaan
yang dapat dilakukan pada pasien dermatitis seboroik adalah pemeriksaan
histopatologi walaupun gambarannya kadang juga ditemukan pada penyakit lain,
seperti pada dermatitis atopik atau psoriasis.Gambaran histopatologi tergantung
dari stadium penyakit.
Gambaran
histopatologis dermatitis seboroik tidak spesifik berupa hiperkeratosis,
akantosis, fokal spongiosis dan parakeratosis. Dibedakan dengan psoriasis yang
memiliki akantosis yang regular, rete ridges yang tipis, eksositosis,
parakeratosis dan tidak dijumpai spongiosis. Neutrofil dapat dijumpai pada
kedua jenis penyakit.
Secara
umum terbagi atas tiga tingkat : akut, sub akut dan kronik. Pada akut dan sub
akut, terdapat sedikit infiltrat perivaskuler berupa limfosit dan histiosit,
ada spongiosis dan hiperplasia psoriasiformis. Dapat pula ditemukan folikel
yang tersumbat oleh proses ortokeratosis dan parakeratosis ataupun oleh
krusta-skuama yang mengandung neutropil yang menutupi ostium folikularis.
Pada
bagian epidermis. Dijumpai parakeratosis dan akantosis. Pada korium, dijumpai
pembuluh darah melebar dan sebukan perivaskuler. Pada DS akut dan subakut,
epidermisnya ekonthoik, terdapat infiltrat limfosit dan histiosit dalam jumlah
sedikit pada perivaskuler superfisial, spongiosis ringan hingga sedang, hiperplasia
psoriasiform ringan, ortokeratosis dan parakeratosis yang menyumbat folikuler,
serta adanya skuama dan krusta yang mengandung netrofil pada ostium folikuler.
Gambaran ini merupakan gambaran yang khas. Pada dermis bagian atas, dijumpai
sebukan ringan limfohistiosit perivaskular. Pada DS kronik, terjadi dilatasi
kapiler dan vena pada pleksus superfisial selain dari gambaran yang telah
disebutkan di atas yang hampir sama dengan gambaran psoriasis. 2-4
Pemeriksaan penunjang
lainnya yang dapat dilakukan antara lain:
1.
Kultur jamur dan kerokan kulit amat
bermanfaat untuk menyingkirkan tinea kapitis maupun infeksi yang disebabkan
kuman lainnya.
2.
Pemeriksaan serologis untuk
menyingkirkan dermatitis atopik.
3.
Pemeriksaan komposisi lemak pada
permukaan kulit dimana memiliki karakteristik yang khas yakni menigkatnya kadar
kolesterol, trigliserida dan parafin disertai penurunan kadar squalene, asam
lemak bebas dan wax ester.
Diagnosis
banding dermatitis seboroik tergantung pada lokasi dari kelainan dan umur dari
pasien. Pada anak, diferensial diagnosisnya adalah dermatitis atopik, tinea
kapitis dan psoriasis.
a. Psoriasis
Vulgaris
Psoriasis vulgaris
meskipun jarang pada bayi, memiliki ciri yang mirip dengan dermatitis seboroik.
Bedanya terdapat skuama yang tebal, kasar, dan berlapis-lapis, disertai tanda
tetesan lilin, Kobner dan Auspitz. Tempat predileksinya juga berbeda, psoriasis
sering terdapat di ekstremitas bagian ekstensor terutama siku, lutut, kuku dan
daerah lumbosakral. Jika psoriasis mengenai scalp, maka sukar dibedakan dengan
DS. Perbedaannya ialah skuamanya lebih tebal dan putih, seperti mika. Psoriasis
inversa yang mengenai daerah fleksor juga dapat menyerupai DS. Selain itu, pada
pemeriksan histopatologis terdapat papilomatosis.
b. Pitiriasis
Rosea
Pitiriasis rosea ialah
penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya, dimulai dengan lesi inisial
berbentuk eritema dan skuama halus. Lesi awal berupa herald patch, umumnya di
badan, soliter, bentuk oval dan terdiri atas eritema serta skuama halus dan
tidak berminyak di pinggir. Lesi berikutnya lebih khas yang dapat dibedakan
dengan DS, yaitu lesi yang menyerupai pohon cemara terbalik. Tempat
predileksinya juga berbeda, lebih sering pada badan, lengan atas bagian
proksimal dan paha atas, jarang pada kulit kepala.
c. Tinea
kapitis
Tinea kapitis adalah
kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofit
dan biasanya menyerang anak–anak. Kelainan pada tinea kapitis dapat ditandai
dengan lesi bersisik, kemerahan, alopesia dan kadang-kadang terjadi gambaran
klinis yang lebih berat, yaitu kerion. Bercak-bercak seboroik pada kulit kepala
yang berambut kadang-kadang membingungkan. Biasanya lesi DS pada kulit kepala
lebih merata dan mempunyai lesi kulit yang simetris distribusinya. Pada tinea
kapitis dan tinea kruris, eritema lebih menonjol di pinggir dan pinggirannya
lebih aktif dibandingkan di tengahnya. Pada pemeriksaan didapatkan KOH positif
dimana terlihat hifa yang bersekat, bercabang, serta spora. Untuk menyingkirkan
tinea kapitis dapat dilakukan pemeriksaan kerokan kulit pada kultur jamur.
d. Liken
Simpleks Kronikus
Liken simpleks kronikus
adalah peradangan kulit kronis yang gatal, sirkumskrip ditandai dengan kulit
tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenfikasi). Tidak biasa terjadi
pada anak tetapi pada usia ke atas, berbeda dengan DS yang sering juga terjadi
pada bayi dan anak-anak. Timbul sebagai lesi tunggal pada daerah kulit kepala
bagian posterior atau sekitar telinga.Tempat predileksi di kulit kepala dan
tengkuk, sehingga kadang sukar dibedakan dengan DS. Yang membedakannya ialah
adanya likensifikasi pada penyakit ini.
e. Dermatitis
Atopik
Dermatitis Atopik
adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal. Biasanya
terjadi pada bayi atau anak-anak. Skuama kering dan difus, berbeda dengan DS
yang skuamanya berminyak dan kekuningan. Selain itu, pada dermatitis atopik
dapat terjadi likenfikasi.
Ciri khas yang paling
berguna sebagai pembeda dermatitis seboroik dari dermatitis atopik adalah
adanya lesi yang makin meningkat jumlahnya di daerah dahi dan dagu pada tahap
awal, dan di axilla pada tahap lebih lanjut. Selain itu dermatitis seboroik
biasanya hilang spontan dalam usia 6-12 bulan. Tes-tes dengan bahan-bahan
allergen dan pemeriksaan kadar IgE merupakan tanda khas dermatitis atopik.
f. Systemic
Lupus Erythematosus
SLE adalah penyakit
yang basanya bersifat akut, multisistemik dan menyerang jaringan konektif dan
vaskular. SLE sulit dibedakan dengan DS, oleh karena pada SLE juga dapat
dijumpai skuama. Yang dapat membedakan ialah lesi SLE berbentuk seperti
kupu-kupu, tersering di area molar dan nasal dengan sedikit edema, eritema dan
atrofi. Terdapat gejala demam, malaise, serta tes antibodi-antinuklear (+).
g. Rosasea
Rosasea adalah penyakit
kulit kronis pada derah sentral wajah (yang menonjol/ cembung).
Secara
umum, terapi bertujuan untuk menghilangkan sisik dengan keratolitik dan sampo,
menghambat pertumbuhan jamur dengan pengobatan anti jamur, mengendalikan
infeksi sekunder dan mengurangi eritema dan gatal dengan steroid topikal.
Pasien harus diberitahu bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan sering
kambuh. Harus dihindari faktor pencetus, seperti stres emosional, makanan
berlemak, dan sebagainya.
Terapi dermatitis
seboroik dapat meliputi:
1.
Umum
Secara umum, terapi
bertujuan untuk menghilangkan sisik dengan keratolitik dan sampo, menghambat
pertumbuhan jamur dengan pengobatan anti jamur, mengendalikan infeksi sekunder
dan mengurangi eritema dan gatal dengan steroid topikal. Pasien harus diberitahu
bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan sering kambuh. Harus dihindari faktor
pencetus, seperti stres emosional, makanan berlemak, dan sebagainya. Perawatan
rambut, dicuci dan dibersihkan dengan shampo.
2.
Khusus
a. Sistemik
· Antihistamin
H1 sebagai penenang dan anti gatal.
· Vitamin
B kompleks.
· Kortikosteroid
oral dapat menurunkan insiden dermatitis seboroik. Misalnya Prednison 20-30 mg
sehari untuk bentuk berat. Jika telah ada perbaikan, dosis diturunkan
perlahan-lahan.
· Antibiotik
seperti penisilin, eritromisin pada infeksi sekunder (dermatitis seboroik).
· Preparat
azol akhir-akhir ini sangat berpengaruh terhadap P. Ovale, juga dapat
mempengaruhi berat ringannya dermatitis seboroik. Misalnya Ketokonazol 200 mg
per hari.
· Isotretinoin
dapat digunakan pada kasus yang rekalsitran. Efeknya mengurangi aktivitas
kelenjar sebasea. Ukuran kelenjar tersebut dapat dikurangi sampai 90%,
akibatnya terjadi pengurangan produksi sebum. Dosisnya 0,1-0,3 mg per kg berat
badan per hari, perbaikan tampak setelah 4 minggu. Sesudah itu diberikan dosis
pemeliharaan 5-10 mg per hari selama beberapa tahun yang ternyata efektif untuk
mengontrol penyakitnya.
· Narrow
band UVB (TL-01) yang cukup aman dan efektif. Setelah pemberian terapi 3 x
seminggu selama 8 minggu, sebagian besar penderita mengalami perbaikan.
b. Topikal
Pengobatan topikal
dapat mengontrol dermatitis seboroik dan dandruffkronik pada stadium awal.
Terapi yang dapat digunakan, contohnya fluocinolone, topikal steroid solution.
Pada orang dewasa dengan DS dalam keadaan tertentu menggunakan steroid topikal
satu atau dua kali seminggu, disamping penggunaan sampo yang mengandung sulfur
atau asam salisil dan selenium sulfide 2%, 2 – 3 kali seminggu selama 5 – 10
menit. Atau dapat diberikan sampo yang mengandung sulfur, asam salisil, zing pirition
1 – 2 %. Steroid topikal potensi rendah dapat efektif mengobati DS pada bayi
dan dewasa pada daerah fleksura maupun DS recalcitrant persistent pada dewasa.
Topikal golongan azol dapat dikombinasikan dengan regimen desonide (satu dosis
per hari selama dua minggu) untuk terapi pada wajah. Dapat juga diberikan salap
yang mengandung asam salisil 2%, sulfur 4% dan ter 2%. Pada bayi dapat
diberikan asam salisil 3% - 5% dalam minyak mineral. 2,4-5,10,17.
c. Obat
Alternatif
Terapi alami saat ini
menjadi semakin populer. Tea tree oil (Melaleuca oil) adalah minyak esensial
yang berasal dari Australia. Terapi ini dapat efektif bila digunakan setip hari
dalam bentuk sampo 5 %.
Bila
dermatitis seborrheic maupun infeksi ringworm sudah dalam kondisi yang parah,
segeralah minta bantuan ahli untuk mengatasinya. Pengobatan-pengobatan yang
dilakukan oleh dokter kulit misalnya, sangat diperlukan untuk penanganan yang
efektif. Namun, meskipun pertolongan ahli sangat diperlukan, ada beberapa
langkah yang bisa kita lakukan sendiri untuk penyembuhan yang lebih maksimal:
1.
Umumnya anak yang berbakat atopik di
kepala akan mengalami "ketombean" yang lebih parah kalau cuaca sedang
panas. Soalnya di saat seperti ini aktivitas kelenjar androgennya akan
meningkat. Usahakan meminimalisir suasana tidak nyaman tersebut, misalnya
dengan memakai payung bila keluar rumah, menghindari ruangan yang pengap,
menghindari baju yang tebal, dan sebagainya. Sangat baik bila kita bisa
menyediakan ruangan ber-AC untuk anak.
2.
Sebaiknya, jangan mengangkat sisik di
kepala anak sebelum ada perintah dokter. Dikhawatirkan akan terjadi infeksi.
Mungkin saja alat yang digunakan tidak steril. Bila infeksi terjadi, maka bisa
lebih berbahaya. Dokter akan memberikan obat bila sisik di kepala anak terlihat
banyak dan harus diangkat. Selain itu, terutama pada bayi, obat tersebut
biasanya dicampur dengan minyak agar mudah mengenai kulit kepala.
3.
Penggunaan sampo bisa saja dilakukan
karena sampo merupakan produk yang dibuat khusus untuk membersihkan kulit
kepala dari kotoran. Namun hati-hati, gunakan sampo yang betul-betul
diperuntukkan bagi anak, bukan untuk orang dewasa. Sampo untuk orang dewasa
umumnya mengandung bahan sulfaktan, bahan pewangi, pengawet, dan sebagainya
yang bisa mengiritasi kulit dan mata. Sedangkan sampo bayi sengaja tidak
mendapat tambahan bahan-bahan yang bakal membahayakannya. Sampo tersebut harus
lembut karena fungsi kelenjar kulit pada bayi dan anak belum bekerja secara
sempurna.
4.
Penggunaan sampo untuk membersihkan
kulit kepala memang sangat efektif. Namun tidak semua bayi dan anak betul-betul
membutuhkannya. Bila tanpa sampo tak ada kelainan yang muncul, lebih baik
gunakan air bersih saja ketika menyuci kepalanya. Frekuensi yang dianjurkan
untuk pemakaian sampo adalah seminggu dua kali atau tiga kali. Namun, umumnya
sampo bayi sangat lembut, sehingga tidak masalah bila dipakai setiap hari.
5.
Banyak anak yang aktif di luar rumah
sehingga banyak mengeluarkan keringat dan membuat kepalanya bau. Bila ingin
menggunakan sampo setiap hari, pilih sampo jenis mild.
6.
Untuk ketombe yang disebabkan jamur,
kita bisa menanganinya dengan mengontrol populasi jamur. Kita bisa mencuci
rambut anak setiap hari dan pijatlah kulit kepala dengan sampo secara perlahan
karena akan menghilangkan jamur lewat serpihan kulit yang lepas.
7.
Pada kasus karena infeksi ringworm,
pengobatan tidak selalu harus dilakukan oleh dokter. Kita bisa menggunakan obat
antijamur yang bisa didapat di apotek. Carilah produk-produk yang mengandung 2%
clotrimezol. Pada beberapa anak yang sensitif dengan produk krim, oleskan
sedikit saja. Namun jika terjadi ruam, cobalah konsultasikan pada dokter untuk
mendapatkan alternatif pengobatan yang lain.
8.
Biasakan untuk selalu mencuci tangan
sesudah menyentuh kulit kepala anak yang terkena infeksi. Hal ini dilakukan
untuk menghindari penularan lebih lanjut.
Pencegahan dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.
Hindari rangsangan gesek, lebih
berhati-hati menggunakan sabun dan handuk
2.
Hindari sabun yang beraroma
3.
Gunakan sabun yang tinggi kadar
minyaknya
4.
Hindari makanan pemicu radang gatal,
batasi makanan berprotein tinggi
5.
Mandi dengan air hangat cenderung dingin
jangan air panas
6.
Hindari gosokan alkohol pada kulit yang
meradang
7.
Hindari kontak langsung dengan
bahan/senyawa penyebab alergi, bila bisa ditemukan
8.
Menggunakan krim pelembab (moisturiser).
Krim pelembab dapat digunakan sesering mungkin
9.
Menggunakan moisturiser atau atau bath
oil untuk mandi
10. Menghindari
faktor-faktor di lingkungan yang memicu atau memperparah eksema, misalnya:
a. Mainan,
air liur, atau makanan di sekitar mulut
b. Bahan
seperti wol aau pelapis cat seat
c. Detergen,
sabun, bubble bath, antiseptik
d. Kontak
dengan bulu hewan
e. Mengatasi
gatal. Garukan akan memperparah eksema dan berisiko menyebabkan infeksi.
Beberapa cara untuk
mengatasi gatal dan garukan:
·
Mengalihkan perhatian anak saat ia
mengaruk
·
Menghindari kondisi yang terlalu hangat
untuk anak
·
Menggunakan krim pelembab (yang ditaruh
di kulkas sebelumnya) sebelum tidur
·
Memakaikan sarung tangan pada anak saat
tidur
·
Jika perlu, berikan obat yang diresepkan
dokter untuk mengurangi gatal di malam hari
·
Selalu memotong pendek kuku anak
·
Jika gatal sangat berat, kompres dingin
dan teknik balut basah dapat digunakan untuk membantu anak tidur.
Dermatitis
seboroik pada anak memiliki prognosis yang baik. Dapat sembuh sendiri secara
spontan dalam 6 hingga 12 bulan dan mungkin dapat timbul kembali saat memasuki
usia pubertas. Meskipun demikian, bila terkena dermatitis seboroik pada saat
kanak-kanak , bukan berarti memiliki indikasi akan terkena dermatitis seboroik
tipe dewasa suatu saat nanti.
BAB III
PENUTUP
Seborrhea adalah suatu peradangan
pada kulit bagian atas, yang menyebabkan timbulnya sisik pada kulit kepala,
wajah dan kadang pada bagian tubuh lainnya. Dermatitis seboreik sering
ditemukan sebagai penyakit keturunan dalam suatu keluarga. Salah satu penyebab
ketombe adalah Pitysporum ovale ( P. Ovale ). Biasanya timbul secara bertahap,
menyebabkan sisik kering atau berminyak di kulit kepala (ketombe), kadang
disertai gatal-gatal tetapi tanpa kerontokan rambut.
Saran Untuk Tenaga Kesehatan
Penyusun berharap hendaknya kita sebagai
tenaga kesehatan lebih memahami tentang macam-macam masalah sering terjadi pada
neonatus, bayi dan balita terutama Seborrhea. Serta bagaiman tindakan kita
untuk mengatasinya.
Saran Untuk Mahasiswa
Penyusun berharap agar mahasiswa prodi DIII
Kebidanan lebih mengetahui tentang masalah yang serimg terjadi pada neonatus,
bayi dan balita. Serta dapat menerapkan saat praktek di lapangan.
Dewi Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Salemba Medika: Jakarta.
Djuanda Adhi, Budimulja Unandar. 2002. Dermatitis Seboroik dan Tinea Kapitis,
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ketiga. Hal 93-95, 183-185. Balai
Penerbit FKUI: Jakarta.
Http://obstetriginekologi.com/artikel/pencegahan+miliariasis+pada+bayi.html
(Di akses pada tanggal 05 Oktober 2015)
Http://Ibuprita.suatuhari.com/tips/seborrhea-pada-neonatus-bayi-dan-balita
(Di akses pada tanggal 05 Oktober 2015)
Ismail Sofyan,dkk. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran
UI:Jakarta.
Siregar, R. S. 2002. Dermatitis Seboroika, dalam Atlas Berwarna
Saripati Penyakit Kulit. Edisi kedua, hal 104-106. Balai Penerbit EGC:
Jakarta.
Sudarti, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Nuha Medika:
Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar